Israel Kembali Serang Gaza Lewat Jalur Udara, 21 Orang Tewas. Konflik Israel-Gaza yang rapuh kembali memanas dengan serangan udara baru dari pasukan Israel di wilayah Gaza, menewaskan setidaknya 21 orang pada Sabtu, 23 November 2025. Serangan itu menargetkan Gaza City dan kamp Nuseirat di tengah Gaza, di mana drone dan rudal menghantam mobil dan rumah warga sipil, termasuk tiga perempuan dan empat anak-anak. Kementerian Kesehatan Gaza konfirmasi korban itu, dengan puluhan luka-luka lain dilarikan ke rumah sakit Al-Aqsa di Deir al-Balah. Serangan ini terjadi hanya sehari setelah tuduhan saling serang pasca-gencatan senjata Oktober, di mana Israel klaim pejuang bersenjata lintasi “garis kuning” dan tembak tentara mereka. “Ini bukan perdamaian, tapi jeda yang penuh darah,” ujar juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Ashraf al-Qudra. Meski gencatan senjata AS didukung Qatar dan Mesir masih berlaku, insiden ini uji ketahanannya, picu kecaman dari PBB dan mediator regional. INFO CASINO
Jalannya Serangan yang Mematikan: Israel Kembali Serang Gaza Lewat Jalur Udara, 21 Orang Tewas
Serangan dimulai pagi hari di Gaza City, di mana rudal Israel hantam mobil sipil yang diduga angkut pejuang Hamas, tewaskan empat orang termasuk dua anak. Beberapa jam kemudian, dua serangan terpisah di Deir al-Balah dan Nuseirat hantam rumah dan tenda pengungsi, tewaskan 10 orang lagi—mayoritas perempuan dan anak. Tentara Israel (IDF) sebut target itu “posisi teroris” setelah seorang bersenjata lintasi garis kuning—batas aman pasca-gencatan senjata—dan tembak ke arah pasukan mereka di Rafah. Respons IDF: serangan balasan di selatan Gaza, termasuk rute bantuan kemanusiaan, yang tewaskan tiga lagi. Total, 21 tewas dan 80 luka, dengan laporan korban di Nasser Hospital, Khan Younis. Ini serangan paling mematikan sejak gencatan senjata Oktober, di mana 280 warga Gaza tewas dan 672 luka sejak jeda itu. Hamas sebut ini “pelanggaran telanjang” gencatan senjata, tuntut mediasi Qatar intervensi.
Dampak Kemanusiaan yang Makin Parah: Israel Kembali Serang Gaza Lewat Jalur Udara, 21 Orang Tewas
Korban jiwa ini tambah beban kemanusiaan di Gaza, di mana lebih 43.000 warga tewas sejak Oktober 2023. Serangan di Nuseirat hantam kamp pengungsi yang padat, tinggalkan 15 luka berat termasuk lima anak dengan luka pecah. Rumah sakit Al-Aqsa overload, dengan dokter sebut stok obat habis dan listrik mati karena kerusakan jaringan. PBB catat 67 anak tewas sejak gencatan senjata, rata-rata dua per hari, meski jeda itu dimaksudkan lindungi sipil. Pengungsi di al-Mawasi, Khan Younis, sebut “perang tak berakhir—kami masih di tenda, kota jadi puing.” UNICEF dan WHO laporkan 571 mayat ditemukan di reruntuhan sejak Oktober, plus 400 pekerja kesehatan tewas. Bantuan makanan dan air terhambat karena rute selatan ditutup, tingkatkan risiko kelaparan di 1,9 juta pengungsi. Ini uji gencatan senjata yang sudah rapuh, dengan mediator khawatir eskalasi total.
Respons Israel dan Hamas
IDF bilang serangan “proporsional” setelah tentara mereka diserang di Rafah, di mana empat orang lintasi garis kuning dan maju ke posisi Israel—tiga tewas, satu ditangkap. “Kami lindungi pasukan kami dari teroris bersenjata,” tegas juru bicara IDF, Daniel Hagari. Israel sebut ini bukan pelanggaran gencatan senjata, tapi “respons defensif” terhadap ancaman Hamas. Di sisi lain, Hamas tuntut investigasi internasional, sebut serangan itu “genosida berkelanjutan” yang langgar kesepakatan Oktober. Juru bicara Hamas, Basem Naim, bilang “Israel uji batas kami untuk lanjut pendudukan.” Zelenskyy, dari Kyiv, sebut ini “pelanggaran kemanusiaan” dan tuntut sanksi lebih ketat. Trump, via X, bilang “kedua pihak harus tenang—damai cepat datang.” Mediator Qatar dan Mesir panggil sidang darurat, tapi Israel tolak tuduhan, sebut Hamas provokasi.
Kesimpulan
Serangan udara Israel yang tewaskan 21 orang di Gaza jadi pukulan telak bagi gencatan senjata yang sudah goyah. Dari rudal di Gaza City hingga tenda pengungsi di Nuseirat, ini ingatkan betapa rapuhnya jeda damai di tengah tuduhan saling serang. Dampaknya tak cuma angka—ribuan keluarga trauma, rumah sakit overload, dan bantuan terhambat. Israel klaim defensif, Hamas sebut genosida, tapi korban sipil yang bayar harga. Mediator harus tegas, PBB tuntut investigasi, dan dunia ingat: tanpa komitmen, eskalasi bisa balik lagi. Gaza butuh lebih dari kata—ia butuh aksi nyata untuk hentikan darah. Saat hujan bom reda, saatnya dialog sungguhan.