Konflik Mengenai Israel-Hizbullah Kembali Ke Puncaknya! Pada 23 November 2025, langit Beirut kembali gelap oleh ledakan, ketika serangan udara Israel menghantam pinggiran selatan kota itu dan membunuh Haytham Ali Tabatabai, kepala staf militer Hizbullah yang dianggap tangan kanan sekjen kelompok tersebut. Ini adalah pukulan telak bagi kelompok bersenjata Lebanon yang didukung Iran, tepat setahun setelah gencatan senjata November 2024 yang seharusnya meredakan konflik perbatasan. Serangan itu, yang menewaskan empat anggota Hizbullah lainnya dan melukai 28 orang, memicu ancaman balasan dari kelompok itu, yang menyebutnya sebagai “pintu terbuka untuk eskalasi”. Di sisi Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membenarkan aksi itu sebagai respons sah terhadap upaya Hizbullah meregenerasi pasukannya, di tengah laporan bahwa kelompok tersebut telah membunuh lebih dari 350 anggotanya sejak gencatan senjata. Saat ini, pada 26 November, militer Israel berada dalam kewaspadaan tinggi, dengan latihan mendadak di perbatasan utara, sementara Hizbullah mempertimbangkan balasan yang bisa membakar ulang perang yang sempat meredup. Ketegangan ini bukan sekadar gesekan lokal; ia berpotensi menyeret Iran, AS, dan sekutu regional ke pusaran yang lebih luas, menguji ketahanan gencatan senjata rapuh di Timur Tengah. INFO CASINO
Kronologi Eskalasi Terkini: Konflik Mengenai Israel-Hizbullah Kembali Ke Puncaknya!
Semuanya berawal dari serangan presisi Israel pada 23 November pagi, menargetkan sebuah apartemen di kawasan Dahieh, benteng Hizbullah di Beirut selatan. Ledakan itu menghancurkan bangunan, meninggalkan puing-puing dan asap tebal yang menyelimuti jalan-jalan sempit. Tabatabai, yang dianggap jenius taktis di balik rekonstruksi Hizbullah pasca-perang 2024, tewas seketika bersama empat rekan militannya. Hizbullah segera mengonfirmasi kematiannya melalui saluran resminya, menyebutnya sebagai “komandan hebat” dan vowing balasan yang akan “mengguncang musuh”. Ini adalah serangan pertama Israel di Beirut sejak gencatan senjata, melanggar kesepakatan diam-diam yang membolehkan operasi terbatas di Lebanon selatan. Sehari sebelumnya, pada 22 November, laporan intelijen Israel mengklaim Hizbullah sedang merekrut dan menyembunyikan senjata di bawah kedok sipil, memicu serangkaian serangan drone di Nabatieh dan Adaisseh yang menewaskan dua operatif. Pada 24 November, pemakaman Tabatabai di Beirut menarik ribuan pelayat, di mana pemimpin Hizbullah Naim Qassem berpidato, menuduh Israel melanggar kesepakatan dan berjanji “hukuman berat”. Sementara itu, warga Lebanon selatan melaporkan evakuasi massal, mengingatkan pada gelombang pengungsi 2024 yang mencapai ratusan ribu orang.
Latar Belakang Konflik yang Berkepanjangan: Konflik Mengenai Israel-Hizbullah Kembali Ke Puncaknya!
Konflik Israel-Hizbullah bukanlah cerita baru; akarnya tertanam sejak 1980-an, ketika kelompok itu lahir sebagai perlawanan terhadap pendudukan Israel di Lebanon. Puncaknya terjadi pada 2006, perang 34 hari yang menewaskan lebih dari 1.200 warga Lebanon dan 160 tentara Israel, meninggalkan bekas luka yang dalam. Siklus terbaru dimulai Oktober 2023, saat Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai solidaritas dengan Hamas pasca-serangan 7 Oktober. Respons Israel berupa bombardir masif Lebanon selatan melemahkan Hizbullah, diikuti invasi darat yang merebut wilayah hingga Sungai Litani. Gencatan senjata November 2024, didorong AS dan Prancis, menuntut Hizbullah mundur 10 kilometer dari perbatasan dan Israel hentikan operasi—tapi keduanya dilanggar secara diam-diam. Sejak itu, Israel telah membunuh ratusan anggota Hizbullah melalui serangan targeted, sementara kelompok itu terus menembakkan drone dan roket sporadis. Faktor Iran tak boleh diabaikan: Teheran memasok senjata senilai miliaran dolar, melihat Hizbullah sebagai perisai utama melawan Israel. Di Lebanon, pemerintah lemah bergantung pada bantuan internasional, sementara ekonomi runtuh membuat warga muak dengan perang proxy yang tak berkesudahan.
Respons dan Dampak Regional
Respons langsung datang dari kedua belah pihak. Israel, melalui Menteri Pertahanan Israel Katz, menyatakan serangan itu sah berdasarkan klausul gencatan senjata yang membolehkan pembalasan terhadap pelanggaran. Pada 25 November, Kepala Staf IDF Eyal Zamir memerintahkan latihan mendadak di Galilee utara, mensimulasikan serangan mendadak dari Lebanon, sambil memperkuat sistem pertahanan udara. Netanyahu, dalam pernyataan singkat, memperingatkan bahwa “setiap upaya rekonstruksi Hizbullah akan dihentikan dengan tegas”. Di pihak Hizbullah, Qassem menolak desakan AS untuk menahan diri, menyebut serangan itu sebagai “deklarasi perang terbuka”. Analis memperkirakan balasan bisa berupa serangan roket massal ke Haifa atau Tel Aviv, potensial menewaskan puluhan warga sipil. Regional, Iran mengutuk serangan itu melalui juru bicaranya, sementara AS mendesak kedua pihak kembali ke meja perundingan—meski Presiden Trump menunjukkan sikap ambigu dengan tweet pendukung Israel. Lebanon meminta bantuan PBB untuk evakuasi, sementara Suriah melaporkan peningkatan penyelundupan senjata melalui perbatasannya. Dampak humaniter parah: ribuan warga Lebanon terlantar lagi, dengan UNICEF memperingatkan krisis gizi di anak-anak.
Kesimpulan
Eskalasi Israel-Hizbullah pada akhir November 2025, ditandai kematian Tabatabai, membuka babak baru ketidakpastian di perbatasan yang rapuh. Meski gencatan senjata 2024 dimaksudkan untuk perdamaian, pelanggaran berulang menunjukkan betapa dalamnya ketidakpercayaan kedua pihak. Bagi Israel, ini soal pencegahan ancaman; bagi Hizbullah, simbol perlawanan. Tanpa intervensi kuat dari mediator internasional, konflik ini berisiko meluas, menyeret Lebanon yang sudah rapuh ke jurang lebih dalam. Saat dunia menunggu balasan Hizbullah, satu hal jelas: perdamaian sejati menuntut kompromi, bukan serangan balik. Di tengah duka dan ketakutan, harapan tetap ada pada diplomasi yang bisa menjembatani luka lama sebelum api membakar lagi.