Israel Menutup Akses Untuk ke Desa di Palestina. Militer Israel kembali menutup akses ke sebuah desa Palestina di Tepi Barat yang diduduki pada akhir Desember 2025. Desa Qabatiya di selatan Jenin dikunci total sejak 27 Desember, setelah seorang warga desa diduga melakukan serangan mematikan di Israel. Penutupan ini melibatkan pemblokiran jalan dengan tumpukan puing dan penempatan pasukan, membuat ribuan penduduk terisolasi. Langkah ini menjadi bagian dari pola respons keamanan Israel yang sering dikritik sebagai hukuman kolektif. INFO SLOT
Kronologi dan Alasan Penutupan: Israel Menutup Akses Untuk ke Desa di Palestina
Penutupan dimulai setelah serangan pada 26 Desember 2025, di mana seorang pria Palestina dari Qabatiya menabrak dan menusuk dua orang hingga tewas di Israel utara. Militer Israel langsung melakukan operasi besar di desa tersebut, termasuk penggerebekan rumah dan interogasi warga.
Menteri Pertahanan Israel menyatakan operasi ini sebagai tindakan tegas terhadap “pusat teror”, dengan lockdown lengkap dan pengepungan desa. Warga melaporkan jalan masuk ditutup dengan puing, akses ke rumah terhambat, dan sekolah ditutup. Operasi berlanjut hingga hari kedua, dengan pasukan mengubah beberapa rumah menjadi pusat interogasi sementara.
Dampak terhadap Warga Lokal: Israel Menutup Akses Untuk ke Desa di Palestina
Penutupan akses ini berdampak berat pada kehidupan sehari-hari ribuan penduduk Qabatiya. Warga kesulitan keluar masuk desa untuk bekerja, berobat, atau kebutuhan dasar. Seorang penduduk menyebut situasi ini sebagai “hukuman kolektif” karena seluruh desa dikucilkan atas perbuatan individu.
Pasien yang butuh perawatan di luar desa terhambat, sementara anak sekolah kehilangan aktivitas belajar. Isolasi juga memperburuk kondisi ekonomi, terutama bagi petani dan pedagang yang bergantung pada akses ke kota terdekat seperti Jenin. Kritik dari warga dan pengamat menyebut langkah ini melanggar hak dasar gerak bebas di wilayah pendudukan.
Respons dan Konteks Lebih Luas
Israel membela penutupan sebagai langkah keamanan必要 setelah serangan, serupa dengan kasus-kasus sebelumnya di Tepi Barat. Namun, organisasi hak asasi sering mengkritik praktik ini sebagai bentuk kontrol kolektif yang tidak proporsional.
Di konteks lebih luas, penutupan akses ke desa-desa Palestina semakin sering terjadi sepanjang 2025, di tengah eskalasi kekerasan settler dan operasi militer. Situasi ini menambah ketegangan di Tepi Barat, di mana ratusan checkpoint dan penghalang jalan sudah membatasi mobilitas warga Palestina sehari-hari.
Kesimpulan
Penutupan akses ke desa Qabatiya oleh Israel menunjukkan pola respons keamanan yang kontroversial di Tepi Barat. Meski bertujuan mencegah ancaman, dampaknya terhadap warga sipil tak berdosa cukup besar, dari isolasi hingga gangguan kehidupan normal. Kejadian ini mengingatkan pada tantangan berkelanjutan hak gerak bebas di wilayah pendudukan. Harapannya, situasi mereda secepat mungkin agar warga bisa kembali beraktivitas normal tanpa hambatan berlebih. Konflik seperti ini terus menjadi sorotan internasional di akhir 2025.