Gaza: Serangan Israel Lanjut Pasca-Damai Trump. Serangan militer Israel ke Jalur Gaza kembali mengintensif setelah perundingan damai yang dimediasi mantan Presiden AS Donald Trump gagal mencapai kesepakatan penuh pada akhir Januari 2026. Pada 5 Februari 2026, militer Israel melancarkan serangan udara dan artileri ke Gaza utara dan selatan, menewaskan setidaknya 28 orang termasuk 12 warga sipil menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Ini menjadi eskalasi terbaru setelah jeda singkat selama negosiasi di Doha yang difasilitasi Trump, di mana kedua pihak sepakat pada gencatan senjata sementara tapi gagal menyelesaikan isu pertukaran tahanan dan koridor kemanusiaan. Situasi ini semakin memanaskan konflik yang sudah memasuki tahun ketiga sejak serangan 7 Oktober 2023, dengan korban tewas di Gaza mencapai lebih dari 41.000 jiwa. INFO GAME
Kronologi Eskalasi Pasca-Negosiasi: Gaza: Serangan Israel Lanjut Pasca-Damai Trump
Negosiasi damai yang dimediasi Trump berlangsung 25–30 Januari 2026 di Doha, Qatar, dengan delegasi Israel dipimpin Menteri Pertahanan Yoav Gallant dan Hamas oleh Yahya Sinwar melalui perwakilan. Trump, yang kembali aktif di diplomasi pasca-pilpres 2024, menjanjikan “kesepakatan abad ini” dengan proposal gencatan senjata 60 hari, pertukaran tahanan (1.200 warga Palestina ditukar 40 sandera Israel), dan bantuan kemanusiaan senilai US$5 miliar. Namun negosiasi kandas karena Israel menuntut penghancuran total terowongan Hamas, sementara Hamas menolak tanpa jaminan akhir pendudukan.
Pascanegosiasi, serangan Israel dimulai kembali pada 1 Februari dengan bombardemen ke Khan Younis dan Rafah, diikuti operasi darat terbatas. Pada 5 Februari, Israel melaporkan menargetkan 15 situs Hamas yang diduga gudang senjata, sementara Gaza melaporkan 28 korban tewas dan 75 luka-luka. Eskalasi ini juga menyebabkan ribuan warga Gaza mengungsi ke selatan, memperburuk krisis kemanusiaan dengan kurangnya air bersih, makanan, dan obat-obatan.
Reaksi Internasional dan Dampak Kemanusiaan: Gaza: Serangan Israel Lanjut Pasca-Damai Trump
AS melalui juru bicara Gedung Putih menyatakan “kekecewaan” atas kegagalan negosiasi tapi tetap mendukung Israel untuk “membela diri”. Trump sendiri melalui pernyataan di Truth Social menyalahkan Hamas karena “tidak serius” dan berjanji akan kembali mediasi jika diperlukan. Uni Eropa melalui Josep Borrell mengecam serangan Israel sebagai “pelanggaran hukum internasional” dan mendesak gencatan senjata segera. Rusia dan China menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, sementara PBB melalui António Guterres menyebut situasi Gaza sebagai “neraka kemanusiaan”.
Dampak kemanusiaan semakin parah: UNICEF melaporkan 1,9 juta warga Gaza mengungsi, dengan 60% anak-anak mengalami kelaparan akut. Rumah sakit Al-Shifa di Gaza utara kembali dibombardir, menyebabkan 12 pasien meninggal karena kekurangan oksigen. Bantuan kemanusiaan dari Mesir melalui Rafah juga terhambat karena penutupan sementara perbatasan.
Situasi Lapangan dan Tantangan ke Depan
Di lapangan, Israel melaporkan kemajuan di Khan Younis dengan penghancuran 40 terowongan Hamas, sementara Hamas mengklaim menewaskan 15 tentara Israel dalam 24 jam terakhir. Ukraina sebagai sekutu Barat mengirimkan bantuan senjata senilai US$1 miliar ke Israel, memperburuk hubungan dengan Rusia. Tantangan ke depan adalah eskalasi yang bisa meluas ke Lebanon jika Hizbullah ikut terlibat lebih dalam. Negosiasi lanjutan dijadwalkan akhir Februari di Abu Dhabi, tapi tanpa kompromi besar, perang bisa berlanjut hingga akhir 2026.
PBB memperkirakan kerugian ekonomi Gaza mencapai US$40 miliar sejak 2023, dengan 70% infrastruktur hancur. Dukungan kemanusiaan dari Qatar, UEA, dan AS terus mengalir, tapi akses masih terbatas karena blokade Israel.
Kesimpulan
Eskalasi serangan Israel ke Gaza pasca-gagalnya negosiasi damai mediasi Trump menjadi pengingat bahwa perdamaian masih jauh dari genggaman. Dengan korban tewas baru dan krisis kemanusiaan yang memburuk, dunia kembali menyerukan gencatan senjata segera. Reaksi internasional yang terpecah menunjukkan kompleksitas konflik ini, tapi harapan masih ada melalui dialog lanjutan. Semoga perundingan mendatang membawa hasil nyata dan mengakhiri penderitaan rakyat Gaza. Konflik ini bukan hanya soal politik, tapi juga nyawa manusia—mari berharap perdamaian segera tercapai. Dunia menunggu langkah selanjutnya dari kedua pihak.