Gaza: Serangan Israel Lanjut, 40 Tewas

Gaza: Serangan Israel Lanjut, 40 Tewas. Serangan militer Israel di Jalur Gaza terus berlanjut tanpa tanda-tanda mereda. Dalam 24 jam terakhir hingga 10 Februari 2026, setidaknya 40 warga Palestina tewas akibat serangan udara dan artileri di berbagai wilayah, terutama di Rafah, Khan Younis, dan Gaza City. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka berat. Situasi kemanusiaan semakin memburuk dengan akses bantuan yang sangat terbatas, kekurangan bahan bakar, dan runtuhnya sebagian besar fasilitas kesehatan. Konflik yang sudah memasuki bulan ke-16 ini menunjukkan pola serangan yang intensif, meskipun tekanan internasional untuk gencatan senjata terus meningkat. Mari kita simak kondisi terkini dan dampaknya. INFO GAME

Kronologi Serangan Terkini: Gaza: Serangan Israel Lanjut, 40 Tewas

Pada malam hingga dini hari 9–10 Februari 2026, pesawat tempur Israel melakukan puluhan serangan di Rafah bagian selatan, termasuk di kawasan Tel al-Sultan dan sekitar kamp pengungsi Shaboura. Beberapa rumah yang dihantam langsung runtuh, menewaskan keluarga-keluarga yang sedang berlindung. Di Khan Younis, serangan artileri dan drone menyasar lingkungan Al-Amal dan sekitar Rumah Sakit Nasser, meskipun fasilitas itu sudah lama tidak berfungsi penuh. Gaza City juga tidak luput, dengan laporan serangan di distrik Al-Zaytoun dan Sheikh Radwan yang menewaskan belasan orang.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total korban tewas mencapai 40 orang dalam periode tersebut, dengan 110 lainnya terluka. Data ini belum termasuk korban yang masih tertimbun reruntuhan karena keterbatasan alat berat dan tenaga medis. Tim penyelamat sipil Palestina melaporkan kesulitan besar dalam mengevakuasi korban akibat pemadaman listrik berkepanjangan dan kekurangan bahan bakar untuk ambulans. Serangan juga menargetkan area yang sebelumnya ditetapkan sebagai “zona aman” oleh militer Israel, sehingga memicu kritik tajam dari organisasi kemanusiaan.
Sementara itu, militer Israel menyatakan operasi dilakukan untuk menargetkan infrastruktur Hamas dan mencegah peluncuran roket. Mereka mengklaim telah membunuh beberapa komandan senior di Rafah, meski tidak memberikan bukti spesifik terkait serangan malam itu. Situasi ini terjadi di tengah pembicaraan gencatan senjata yang masih mandek di Kairo, di mana mediator Mesir dan Qatar berusaha menjembatani tuntutan kedua pihak.

Situasi Kemanusiaan yang Semakin Parah: Gaza: Serangan Israel Lanjut, 40 Tewas

Korban tewas dan terluka hanyalah sebagian kecil dari krisis yang lebih luas. Lebih dari 85 persen penduduk Gaza telah mengungsi berulang kali, tinggal di tenda-tenda darurat atau bangunan yang rusak parah. Pasokan makanan, air bersih, dan obat-obatan hampir tidak ada. Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa stok makanan di gudang utara Gaza hanya cukup untuk beberapa hari lagi, sementara distribusi di selatan terhambat oleh pemeriksaan ketat dan penutupan jalan.
Rumah sakit yang masih beroperasi minimal, seperti Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir al-Balah, kewalahan menangani pasien dengan peralatan medis yang minim dan listrik yang sering padam. Dokter melaporkan banyak pasien luka tembak dan serpihan bom harus dioperasi tanpa anestesi cukup atau alat sterilisasi yang memadai. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan, dengan angka malnutrisi akut meningkat drastis dalam beberapa bulan terakhir.
Bantuan kemanusiaan yang masuk melalui Rafah dan Kerem Shalom sangat terbatas. Truk-truk bantuan sering menunggu berhari-hari di perbatasan karena proses inspeksi yang panjang. Akibatnya, harga barang pokok di pasar gelap melonjak, membuat sebagian besar warga tidak mampu membeli kebutuhan dasar. Kondisi ini diperparah oleh cuaca dingin dan hujan yang membuat tenda-tenda pengungsi banjir dan tanah menjadi lumpur.

Reaksi Internasional dan Prospek Damai

Komunitas internasional kembali menyuarakan keprihatinan mendalam. Sekjen PBB menyerukan penghentian segera serangan terhadap warga sipil dan pembukaan koridor bantuan tanpa hambatan. Beberapa negara Eropa dan organisasi hak asasi manusia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah lebih tegas, termasuk embargo senjata terhadap Israel. Di sisi lain, Amerika Serikat terus memberikan dukungan militer kepada Israel sambil mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan.
Pembicaraan di Kairo belum menunjukkan kemajuan berarti. Hamas menuntut penghentian total operasi militer dan penarikan pasukan Israel, sementara Israel bersikeras pada pembebasan sandera dan penghancuran kemampuan militer Hamas. Mediator berupaya mencapai kesepakatan tahap demi tahap, termasuk gencatan senjata sementara selama 30–60 hari, tapi perbedaan posisi masih sangat lebar.

Kesimpulan

Serangan Israel yang berlanjut di Gaza, dengan 40 korban tewas dalam satu hari terakhir, memperlihatkan betapa sulitnya mencapai titik terang dalam konflik ini. Di balik angka korban, ada krisis kemanusiaan yang semakin dalam: kelaparan, penyakit, dan keputusasaan yang melanda ratusan ribu warga sipil. Meski tekanan global untuk gencatan senjata terus bertambah, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tanpa kompromi nyata dari kedua belah pihak, penderitaan di Gaza akan terus berlanjut. Yang paling dibutuhkan saat ini adalah akses bantuan tanpa hambatan, perlindungan warga sipil, dan komitmen bersama untuk menghentikan kekerasan. Tanpa langkah konkret segera, siklus ini berisiko berulang dengan biaya kemanusiaan yang semakin mahal.

BACA SELENGKAPNYA DI….

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *