Gelombang Tinggi Ancam Perairan Aceh hingga NTB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi ekstrem di perairan barat Sumatera hingga Nusa Tenggara Barat mulai Jumat malam (13 Februari 2026) hingga Minggu pagi (15 Februari 2026). Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 4–6,5 meter di Samudra Hindia barat Aceh–Nias, 3–5 meter di Selat Sunda bagian selatan, Selat Bali, dan Selat Lombok, serta 2,5–4 meter di perairan selatan Jawa hingga NTB. Peringatan ini dikeluarkan setelah pantauan satelit dan buoy menunjukkan angin kencang 25–40 knot dari barat daya serta pengaruh bibit siklon tropis di Samudra Hindia barat daya yang mendorong swell besar. BPBD di Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan NTB sudah mengimbau nelayan serta warga pesisir untuk tidak melaut dan menghindari aktivitas di pantai terbuka. MAKNA LAGU
Penyebab dan Prakiraan Cuaca: Gelombang Tinggi Ancam Perairan Aceh hingga NTB
Gelombang tinggi ini dipicu oleh tiga faktor utama. Pertama, angin monsun barat daya yang kuat membentuk swell besar di Samudra Hindia. Kedua, bibit siklon tropis yang berada sekitar 700–1.200 km barat daya Sumatera masih aktif dan memperkuat kecepatan angin di permukaan laut. Ketiga, fenomena pasang tinggi (king tide) yang bertepatan dengan bulan purnama membuat muka air laut naik hingga 60–90 cm di atas normal.
BMKG memperkirakan gelombang 4–6,5 meter akan dominan di perairan barat Aceh hingga Nias hingga Sabtu malam, kemudian sedikit mereda menjadi 3–5 meter pada Minggu. Di Selat Sunda selatan dan Selat Bali, gelombang 3–5 meter berpotensi pecah di pantai dengan ketinggian tambahan 1–2 meter. Angin kencang 25–40 knot juga diprediksi masih berlangsung hingga Minggu siang, disertai hujan sedang-lebat di wilayah pesisir Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat selatan, Bali, dan NTB.
Dampak dan Langkah Antisipasi: Gelombang Tinggi Ancam Perairan Aceh hingga NTB
Dampak langsung sudah terasa sejak Kamis malam. Di Aceh Barat dan Nias, gelombang besar menghantam pemukiman pesisir dan merusak belasan perahu nelayan serta rumah panggung. Sekitar 180 jiwa mengungsi ke balai desa dan masjid setelah rumah mereka terendam air laut dan puing kayu. Di Bengkulu dan Lampung, beberapa dermaga kecil rusak dan stok ikan asin hanyut. Di pesisir selatan Jawa Barat (Pangandaran dan Sukabumi), gelombang pecah mencapai pantai hingga 3 meter, membuat aktivitas wisata air terhenti. Di Bali dan NTB, gelombang tinggi mengancam kawasan wisata pantai seperti Kuta, Jimbaran, dan Senggigi.
BPBD di seluruh provinsi pesisir sudah mendirikan posko darurat dan mendistribusikan masker, air minum, serta paket sembako untuk warga terdampak. Tim SAR gabungan dari Basarnas dan TNI AL dikerahkan untuk memantau kapal-kapal kecil yang masih beroperasi. Pemerintah daerah mengimbau nelayan menunda aktivitas melaut hingga Senin pagi dan warga pesisir tidak mendekati garis pantai. Bandara-bandara di wilayah tersebut masih normal, tapi maskapai diimbau memantau cuaca untuk penerbangan rendah. PLN dan Telkom menyiapkan genset darurat di posko dan fasilitas vital.
Kesimpulan
Gelombang tinggi 4–6,5 meter yang mengancam perairan Aceh hingga NTB menjadi peringatan serius bagi masyarakat pesisir dan nelayan. Meski belum menimbulkan korban jiwa besar, dampaknya terhadap pemukiman, perahu, dan aktivitas wisata sudah cukup signifikan. Respons cepat dari BMKG, BPBD, Basarnas, dan pemerintah daerah patut diapresiasi, terutama dalam pemantauan dan distribusi peringatan. Namun kejadian ini juga menegaskan perlunya solusi jangka panjang: restorasi mangrove, pembangunan tanggul pantai, penataan drainase kota pesisir, dan edukasi berkelanjutan bagi nelayan serta wisatawan. Musim angin barat daya masih berlangsung hingga April, sehingga kewaspadaan harus tetap tinggi. Semoga gelombang segera mereda dan wilayah pesisir bisa kembali aman tanpa harus kehilangan lebih banyak lagi.