Festival Bau Nyale 2026 Dibuka di Lombok. Festival Bau Nyale 2026 resmi dibuka Kamis malam (12 Februari 2026) di Pantai Seger, Kuta, Lombok Tengah. Acara tahunan masyarakat Sasak ini kembali digelar setelah sempat terhenti beberapa tahun akibat pandemi dan pemulihan pasca-gempa. Ribuan warga dan wisatawan memadati pantai sejak sore hari untuk menyaksikan ritual utama: penangkapan cacing laut nyale yang diyakini membawa berkah. Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Gita Ariadi membuka festival dengan pelepasan lampion dan tarian Gandrung Sasak, menandai dimulainya rangkaian acara selama tiga hari penuh. Tahun ini festival mengusung tema “Nyale, Warisan, dan Harmoni”, menekankan pelestarian budaya sekaligus pariwisata berkelanjutan di tengah lonjakan kunjungan wisatawan. MAKNA LAGU
Makna dan Ritual Utama: Festival Bau Nyale 2026 Dibuka di Lombok
Bau Nyale adalah tradisi turun-temurun suku Sasak yang diadakan setiap tahun sekitar bulan Februari atau Maret, bertepatan dengan fase bulan purnama kedua setelah Tahun Baru Saka. Masyarakat percaya cacing laut nyale (Eunice viridis) yang muncul di permukaan laut adalah jelmaan Dewi Ratih, istri Dewa Kama. Penangkapan nyale dianggap membawa berkah kesuburan tanah, kesehatan, dan rezeki bagi yang berhasil mendapatkannya.
Ritual puncak berlangsung Jumat dini hari (13 Februari 2026) sekitar pukul 03.30 WITA. Ratusan nelayan dan warga turun ke laut dengan perahu tradisional, membawa obor dan jaring kecil. Saat nyale muncul di permukaan—ditandai dengan kilauan hijau kebiruan di air—mereka berlomba menangkap dengan tangan kosong atau jaring. Tahun ini penangkapan berlangsung sekitar 45 menit karena arus laut yang kuat. Nyale yang berhasil ditangkap langsung dimakan mentah oleh sebagian peserta sebagai bagian dari ritual, sementara sisanya dibawa pulang untuk dibagikan kepada keluarga dan tetangga. Acara diakhiri dengan doa bersama dan tarian Gandrung di pantai saat matahari terbit.
Rangkaian Acara dan Dampak Ekonomi: Festival Bau Nyale 2026 Dibuka di Lombok
Selain ritual utama, festival tahun ini menghadirkan berbagai kegiatan pendukung. Ada pameran UMKM khas Lombok seperti tenun ikat, anyaman pandan, dan kuliner tradisional seperti ayam taliwang, sate rembiga, dan plecing kangkung. Pentas seni budaya Sasak berlangsung setiap malam, termasuk pertunjukan gendang beleq, tarian peresean, dan musik cilokaq. Untuk wisatawan, disediakan paket homestay dan tur budaya di desa-desa sekitar Kuta serta Pantai Tanjung Aan.
Dampak ekonomi terasa signifikan. Panitia memperkirakan lebih dari 150.000 pengunjung hadir selama tiga hari, naik sekitar 35% dibandingkan tahun lalu. Pendapatan UMKM lokal melonjak, terutama pedagang makanan, suvenir, dan jasa transportasi. Hotel dan penginapan di Kuta, Senggigi, serta Mataram hampir penuh sejak Rabu malam. Pemerintah Provinsi NTB mencatat potensi pendapatan daerah dari pajak hotel, restoran, dan hiburan mencapai Rp12–15 miliar selama periode festival. Namun panitia juga mengingatkan pengunjung untuk menjaga kebersihan pantai dan tidak membuang sampah sembarangan agar tradisi tetap lestari.
Kesimpulan
Festival Bau Nyale 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya Sasak yang kaya makna, tapi juga momentum pemulihan pariwisata Lombok pasca-pandemi dan bencana alam. Ritual penangkapan nyale yang tetap autentik di tengah ribuan pengunjung menunjukkan kekuatan tradisi dalam menyatukan masyarakat lokal dan wisatawan. Dengan suksesnya penyelenggaraan tahun ini, harapan besar muncul agar festival ini terus berkembang sebagai salah satu event budaya nasional yang berkelanjutan. Bagi siapa saja yang ingin merasakan pengalaman unik—menyaksikan laut bercahaya di malam hari, berbagi cerita dengan warga lokal, dan menikmati kuliner Lombok—Bau Nyale layak masuk daftar kunjungan. Semoga tradisi ini terus hidup, dan semoga “berkah nyale” benar-benar membawa kemakmuran bagi masyarakat Flores Timur dan seluruh Lombok di tahun-tahun mendatang.