Gempa M 5,7 Guncang Pacitan, Terasa Sampai Bali dan Jogja. Gempa berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang wilayah selatan Jawa Timur pada 27 Januari 2026 pukul 14:42 WIB. Pusat gempa berada di laut pada koordinat 8,94° LS dan 111,45° BT, sekitar 78 km tenggara Kabupaten Pacitan, dengan kedalaman 28 km. Getaran dirasakan hingga skala intensitas IV–V MMI di Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, dan Tulungagung; skala III–IV MMI di Yogyakarta, Solo, Semarang, serta Denpasar dan Gianyar di Bali. Gempa ini tidak berpotensi tsunami, namun memicu kepanikan warga di pesisir selatan Jawa dan Bali. Hingga malam ini, belum ada laporan korban jiwa, tetapi beberapa bangunan rusak ringan dan ratusan warga memilih mengungsi sementara. INFO PROPERTI
Kronologi dan Mekanisme Gempa: Gempa M 5,7 Guncang Pacitan, Terasa Sampai Bali dan Jogja
Gempa terjadi di zona megathrust lepas pantai selatan Jawa yang masih aktif. BMKG mencatat gempa ini sebagai gempa intraslab akibat deformasi lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah lempeng Eurasia. Intensitas terkuat dirasakan di Pacitan dan sekitarnya dengan durasi guncangan sekitar 15–20 detik. Di Yogyakarta, getaran terasa selama 10–12 detik dengan intensitas III MMI (benda-benda ringan bergoyang, jendela berderit). Di Bali, getaran terasa lebih lemah namun cukup membuat warga berhamburan keluar rumah, terutama di kawasan pesisir selatan seperti Gianyar dan Badung. Gempa susulan tercatat sebanyak 12 kali hingga pukul 22.00 WIB, dengan magnitudo terbesar 4,1. BMKG menyatakan belum ada indikasi gempa susulan yang lebih besar, tetapi masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi longsor di lereng pegunungan Pacitan dan Trenggalek yang sudah jenuh air akibat hujan sebelumnya.
Dampak dan Respons Darurat: Gempa M 5,7 Guncang Pacitan, Terasa Sampai Bali dan Jogja
Kerusakan terparah terjadi di Kabupaten Pacitan: tiga rumah warga rusak berat, 17 rumah rusak ringan, serta satu masjid dan dua sekolah mengalami retak pada dinding dan plafon. Di Ponorogo dan Trenggalek, beberapa bangunan pemerintah dan rumah warga juga retak, namun tidak ada korban jiwa. Di Yogyakarta, getaran menyebabkan kepanikan di kawasan Malioboro dan Kraton, sementara di Bali, beberapa wisatawan di pantai selatan berlarian ke tempat lebih tinggi. BPBD setempat langsung mendirikan posko darurat di Pacitan dan sekitarnya. Tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, dan relawan melakukan pendataan dan evakuasi sementara di desa-desa yang berisiko longsor. Gubernur Jawa Timur dan DIY memerintahkan inspeksi cepat terhadap gedung-gedung publik dan sekolah. Di Bali, Gubernur memastikan tidak ada kerusakan signifikan di kawasan wisata, meski beberapa hotel melaporkan tamu panik dan meminta check-out dini.
Rekomendasi dan Peringatan BMKG
BMKG meminta masyarakat pesisir selatan Jawa dan Bali tetap waspada terhadap gempa susulan dan potensi longsor. Warga diminta tidak panik, menghindari bangunan yang sudah retak, dan tidak memasuki lereng bukit yang jenuh air. Nelayan dihimbau menunda melaut hingga kondisi laut kembali normal. Pemerintah daerah diinstruksikan mempercepat pendataan kerusakan dan penyaluran bantuan logistik. BMKG juga mengingatkan bahwa zona selatan Jawa masih berada dalam siklus seismik aktif, sehingga masyarakat perlu terus meningkatkan kesiapsiagaan gempa, termasuk memiliki tas darurat dan mengetahui jalur evakuasi. Prakiraan cuaca menunjukkan hujan sedang hingga lebat masih mungkin terjadi hingga akhir Januari, yang dapat memperburuk risiko longsor pasca-gempa.
Kesimpulan
Gempa magnitudo 5,7 yang mengguncang Pacitan pada 27 Januari 2026 berhasil dirasakan hingga Yogyakarta dan Bali, menambah daftar gempa signifikan di selatan Jawa dalam beberapa bulan terakhir. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerusakan ringan pada bangunan dan kepanikan warga menunjukkan betapa pentingnya kesiapsiagaan gempa di wilayah rawan. Respons cepat dari BPBD dan pemerintah daerah sudah terlihat, namun pemulihan infrastruktur dan trauma psikologis warga masih memerlukan perhatian serius. Warga diimbau tetap tenang, mengikuti arahan resmi, dan terus memantau informasi BMKG. Semoga tidak ada gempa susulan besar dan masyarakat bisa segera kembali ke aktivitas normal. Kesiapsiagaan tetap menjadi kunci menghadapi ancaman gempa di Indonesia. Tetap waspada dan jaga keselamatan!