Pedagang Kaki 5 di Jabodetabek Tidak Bisa Berjualan. Hujan lebat yang mengguyur wilayah Jabodetabek sejak Selasa malam hingga Kamis pagi memicu banjir di puluhan titik rawan. Saluran drainase tersumbat, kali-kali kecil meluap, dan genangan air bertahan lama karena debit air dari hulu masih tinggi. Pedagang kaki lima yang biasanya berjualan di trotoar, pinggir jalan, atau bawah flyover kini kehilangan tempat beraktivitas. Lokasi seperti Flyover Pesing, Jalan Pandjaitan, Kebon Jeruk, dan kawasan sekitar Stasiun Depok terendam parah, membuat gerobak dan lapak mereka tidak bisa dibuka. Banyak pedagang terpaksa libur jualan atau pindah ke tempat yang lebih tinggi meski pembeli sangat sedikit. Pendapatan harian yang biasanya jadi tumpuan hidup keluarga langsung terhenti, sementara stok makanan dan minuman mulai rusak akibat terendam air kotor. BERITA OLAHRAGA
Kerugian Langsung bagi Pedagang: Pedagang Kaki 5 di Jabodetabek Tidak Bisa Berjualan
Genangan air membuat pedagang tidak bisa memajang dagangan. Makanan seperti gorengan, nasi uduk, sate, bubur ayam, dan minuman kemasan terendam lumpur dan air limbah, sehingga tidak layak jual lagi. Banyak pedagang melaporkan kerugian hingga ratusan ribu rupiah hanya dalam satu hari—modal habis, barang rusak, dan tidak ada pemasukan. Gerobak dorong yang ditinggal semalam di lokasi langganan ikut terendam, beberapa rusak parah karena terdorong arus air. Pedagang yang biasa berjualan di bawah flyover atau trotoar Jalan Daan Mogot, Jenderal Sudirman, dan sekitar stasiun commuter line kini tidak punya pilihan selain menunggu air surut. Beberapa mencoba berjualan di pinggir jalan yang masih kering, tapi pembeli sangat sedikit karena akses jalan utama macet dan masyarakat lebih memilih berdiam di rumah. Pedagang makanan ringan dan minuman dingin paling terdampak karena dagangan mereka mudah rusak jika terkena air.
Dampak Ekonomi dan Kehidupan Sehari-hari: Pedagang Kaki 5 di Jabodetabek Tidak Bisa Berjualan
Bagi pedagang kaki lima, satu hari tidak berjualan bisa berarti kehilangan hampir seluruh pendapatan harian keluarga. Banyak dari mereka adalah tulang punggung rumah tangga dengan penghasilan harian antara 100–300 ribu rupiah. Tanpa pemasukan, mereka kesulitan membeli kebutuhan pokok, bayar kontrakan, atau biaya sekolah anak. Beberapa pedagang mengaku sudah berutang ke tetangga atau saudara untuk bertahan selama banjir berlangsung. Di sisi lain, masyarakat yang biasa membeli makanan murah dari pedagang kaki lima kini kesulitan mencari alternatif terjangkau karena warung makan tetap juga terdampak banjir atau tutup sementara. Kawasan pasar tradisional kecil di pinggir jalan banyak yang tutup karena akses terendam. Kondisi ini memperburuk ekonomi mikro di Jabodetabek, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada sektor informal. Beberapa pedagang mulai mencari pinjaman online atau bantuan dari komunitas, tapi mayoritas hanya bisa menunggu air surut dan cuaca membaik.
Upaya Bantuan dan Harapan Pemulihan
Pemerintah daerah dan relawan mulai mendistribusikan bantuan sembako dan makanan siap saji ke titik-titik kumpul pedagang yang terdampak. Posko bantuan didirikan di beberapa kelurahan untuk menyalurkan beras, mie instan, air minum, dan obat-obatan dasar. Beberapa organisasi masyarakat juga menggalang dana cepat untuk pedagang kaki lima agar bisa mengganti stok dagangan yang rusak. Petugas terus memompa genangan di lokasi strategis seperti Flyover Pesing, Pandjaitan, dan Kebon Jeruk, sambil membersihkan saluran yang tersumbat. Prakiraan cuaca menunjukkan hujan akan berkurang mulai Jumat, memberi harapan genangan bisa surut lebih cepat. Pedagang berharap akses jalan kembali normal dalam 1–2 hari ke depan agar mereka bisa berjualan lagi. Pihak kelurahan dan kecamatan diimbau mempercepat pembersihan saluran agar banjir tidak berulang setiap hujan deras. Pedagang kaki lima sendiri berencana saling bantu dengan meminjamkan gerobak atau berbagi lokasi jualan sementara di tempat yang lebih aman.
Kesimpulan
Banjir yang melumpuhkan Jabodetabek membuat pedagang kaki lima tidak bisa berjualan, menimbulkan kerugian besar dan kesulitan ekonomi mendadak bagi ribuan keluarga. Dagangan rusak, tempat berjualan terendam, dan pembeli hilang membuat pendapatan harian langsung terhenti. Meski bantuan mulai mengalir dan air perlahan surut, pemulihan penuh butuh waktu. Kejadian ini mengingatkan betapa rentannya sektor informal terhadap bencana cuaca. Pembersihan saluran, pengelolaan sampah yang lebih baik, dan dukungan cepat dari pemerintah daerah menjadi kunci agar pedagang bisa segera bangkit kembali. Semoga hujan reda dan kehidupan pedagang kaki lima kembali normal dalam waktu dekat.