Pria di Jerman Menerima 1,3 Juta Euro Usai Salah Vonis. Seorang pria berusia 52 tahun di Jerman akhirnya menerima kompensasi sebesar 1,3 juta euro setelah dinyatakan salah vonis dan menghabiskan lebih dari 18 tahun di penjara. Kasus ini menjadi salah satu yang paling mencolok dalam sejarah peradilan Jerman modern. Pengadilan tinggi di negara bagian Schleswig-Holstein mengeluarkan putusan akhir pada 14 Januari 2026, memerintahkan pemerintah membayar ganti rugi atas kesalahan sistemik yang telah menghancurkan hidupnya. Pria tersebut, yang identitasnya dirahasiakan demi privasi, divonis seumur hidup pada tahun 2007 atas tuduhan pembunuhan berencana. Baru pada 2025 bukti DNA baru membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Kini, setelah bebas, ia menerima kompensasi yang dianggap salah satu terbesar dalam kasus salah vonis di Eropa. BERITA OLAHRAGA
Kronologi Kasus yang Panjang dan Penuh Drama: Pria di Jerman Menerima 1,3 Juta Euro Usai Salah Vonis
Pada tahun 2006, seorang perempuan ditemukan tewas di apartemennya di kota kecil dekat Kiel. Penyelidikan awal langsung mengarah pada pria ini karena ia adalah kenalan korban dan memiliki alibi yang dianggap lemah. Bukti utama saat itu berupa sidik jari di pintu dan kesaksian tetangga yang kemudian terbukti tidak akurat. Pengadilan memvonisnya seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat dalam waktu dekat. Selama 18 tahun, ia menjalani hukuman di penjara berkeamanan tinggi sambil terus mengajukan banding. Keluarga dan pengacaranya tidak pernah menyerah, meski upaya banding ditolak berkali-kali. Titik balik terjadi pada 2024 ketika teknologi forensik baru menemukan DNA asing di pakaian korban yang tidak cocok dengan terpidana. Tes lanjutan pada 2025 membuktikan bahwa DNA tersebut milik pelaku sebenarnya yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Pengadilan segera membatalkan vonis dan membebaskan pria tersebut pada akhir 2025.
Proses Kompensasi dan Jumlah yang Ditetapkan; Pria di Jerman Menerima 1,3 Juta Euro Usai Salah Vonis
Setelah bebas, pria ini mengajukan gugatan perdata terhadap negara bagian atas kesalahan vonis dan pelanggaran hak asasi manusia. Pengadilan mempertimbangkan beberapa faktor: lamanya masa tahanan (18 tahun 4 bulan), hilangnya kesempatan kerja, kerusakan psikologis, serta stigma sosial yang melekat. Kompensasi akhir ditetapkan sebesar 1,3 juta euro, termasuk ganti rugi atas kehilangan kebebasan, biaya hidup selama tahanan, dan kerugian emosional. Jumlah itu juga mencakup tunggakan pensiun dan hak-hak sosial yang hilang selama ia dipenjara. Pengadilan menyatakan bahwa negara harus bertanggung jawab penuh atas kegagalan sistem peradilan yang tidak memeriksa bukti secara menyeluruh. Meski jumlah tersebut terdengar besar, banyak pengamat menyebutnya masih jauh dari cukup untuk mengganti 18 tahun hidup yang hilang. Pria tersebut sendiri menyatakan bahwa uang tidak bisa mengembalikan waktu, tapi setidaknya bisa membantu memulai hidup baru.
Reaksi Publik dan Implikasi Sistem Hukum Jerman
Kabar kompensasi ini langsung menjadi headline di seluruh Jerman. Banyak warga menyatakan simpati mendalam, sementara sebagian lain mempertanyakan mengapa sistem peradilan membutuhkan waktu begitu lama untuk mengoreksi kesalahan. Kasus ini memicu diskusi serius tentang keandalan bukti forensik awal, kecepatan peninjauan banding, dan perlindungan hak terdakwa. Beberapa organisasi hak asasi manusia memuji putusan ini sebagai langkah maju dalam akuntabilitas negara, tapi juga menyerukan reformasi lebih luas agar kasus serupa tidak terulang. Pemerintah negara bagian menyatakan akan mengevaluasi ulang prosedur penanganan kasus pembunuhan dan memperkuat pengawasan independen terhadap putusan pengadilan. Kasus ini juga menjadi contoh bahwa kompensasi atas salah vonis di Jerman bisa mencapai angka jutaan euro jika masa tahanan sangat panjang.
Kesimpulan
Penerimaan kompensasi 1,3 juta euro oleh pria yang salah vonis selama 18 tahun menjadi pengingat pahit tentang risiko kesalahan sistem peradilan. Meski uang itu tidak bisa mengembalikan waktu yang hilang, putusan ini memberikan keadilan minimal dan menunjukkan bahwa negara bersedia bertanggung jawab atas kegagalannya. Kasus ini juga mendorong perbaikan sistem hukum agar bukti forensik lebih akurat dan proses banding lebih cepat. Bagi pria tersebut, babak baru kehidupan kini dimulai dengan beban masa lalu yang berat tapi juga dengan dukungan finansial yang memadai. Bagi masyarakat Jerman, ini menjadi pelajaran bahwa keadilan sejati membutuhkan kewaspadaan terus-menerus terhadap sistem yang menyangga kehidupan warganya.