sri-lanka-meminta-bantuan-internasional-usai-banjir-besar

Sri Lanka Meminta Bantuan Internasional Usai Banjir Besar. Sri Lanka sedang berjuang melawan banjir bandang terburuk dalam satu dekade, akibat Badai Tropis Ditwah yang melanda wilayah selatan dan timur negeri itu sejak akhir pekan lalu. Angka korban tewas melonjak menjadi 153 orang per 29 November 2025, dengan 191 lainnya masih hilang, menurut Pusat Manajemen Bencana (DMC). Lebih dari 500.000 orang terdampak di 12 provinsi, termasuk Sungai Kelani yang meluap dekat Kolombo, memaksa evakuasi ribuan warga. Di tengah air yang mulai surut, pemerintah mengajukan permintaan bantuan internasional melalui saluran diplomatik, meminta donasi tunai dari diaspora dan bantuan darurat dari negara tetangga. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul deklarasikan darurat nasional, tapi kritik mengalir deras atas respons lambat. Banjir ini, yang dipicu hujan ekstrem hingga 500 mm dalam 48 jam, jadi pukulan telak bagi ekonomi yang masih pulih dari krisis 2022. REVIEW KOMIK

Kronologi Banjir yang Meluas: Sri Lanka Meminta Bantuan Internasional Usai Banjir Besar

Badai Ditwah menyapu pantai timur Trincomalee pada 24 November, picu hujan deras yang banjiri Sungai Kelani dan sungai-sungai lain di selatan. Provinsi Songkhla paling parah: 126 tewas di Hat Yai saja, dengan air setinggi 3 meter genangi pusat kota, lumpuhkan mal, rumah sakit, dan jalan raya. Pada 27 November, angka tewas masih 33, tapi melonjak ke 145 keesokan harinya saat tim penyelamat gali puing di daerah pegunungan teh yang longsor. Delapan provinsi terdampak: Nakhon Si Thammarat, Pattani, Yala, Trang, Satun, Patthalung, Phatthalung, dan Songkhla. Lebih dari 700 km jalan rusak, 33.000 rumah hancur, dan listrik mati di ribuan desa. Tim penyelamat evakuasi 50.000 orang menggunakan perahu karet, tapi 200 masih hilang di daerah terpencil. Di Kolombo, Wellampitiya banjir parah, paksa evakuasi warga di tepi sungai.

Dampak Ekonomi dan Sosial yang Parah: Sri Lanka Meminta Bantuan Internasional Usai Banjir Besar

Bencana ini rampas lebih dari nyawa—ia hancurkan roda ekonomi selatan Thailand. Hat Yai, pusat perdagangan dekat perbatasan Malaysia, lumpuh total: mal tutup, pariwisata jatuh 70 persen, dan lahan sawah tenggelam rugikan petani jutaan baht. Kerusakan infrastruktur diperkirakan 50 miliar baht, termasuk 1.200 kendaraan rusak dan jaringan serat optik putus yang ganggu komunikasi. Warga seperti May Noopannoy, yang cari ayahnya selama tujuh hari, cerita pilu: “Saya tak bisa tidur, makan, atau kerja—hanya khawatir.” Keluarga terpisah, anak-anak yatim, dan lansia kehilangan obat-obatan. Rumah sakit overload, morgue penuh pakai truk pendingin. Di media sosial, tagar #ThailandFlood kumpul jutaan unggah, tuntut pemerintah akui kecerobohan seperti keterlambatan peringatan dini.

Respons Pemerintah dan Bantuan Internasional

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul kunjungi Hat Yai pada 28 November, akui “kekurangan manajemen banjir” dan salahkan cuaca ekstrem. Ia alokasikan 7 miliar baht untuk bantuan, termasuk 10.000 baht per keluarga korban dan unit sementara untuk 2.000 rumah. Departemen Pencegahan Bencana kerahkan 1.200 petugas, tapi kritik mengalir deras: respons lambat, peringatan tak tepat waktu, dan dana tak merata. Oposisi tuntut investigasi, sebut banjir ini “bisa dicegah” dengan bendungan lebih baik. Internasional bantu: India kirim Operation Sagar Bandhu dengan kapal induk INS Vikrant untuk evakuasi udara, donasi 100 juta yuan dari China, dan tim SAR dari AS. ASEAN adakan rapat darurat, sementara Sri Lanka Red Cross galang dana global. Pada 29 November, air mulai surut di sebagian besar provinsi, tapi Pattani dan Nakhon Si Thammarat masih darurat.

Kesimpulan

Banjir Ditwah yang rampas 153 nyawa jadi pukulan telak bagi Thailand, ungkap kerentanan di tengah perubahan iklim. Dari Hat Yai lumpuh hingga ribuan pengungsi, dampaknya melampaui angka—ia cerita tentang keluarga tercerai dan ekonomi terpuruk. Respons pemerintah yang dikritik jadi pelajaran pahit, tapi komitmen Anutin untuk kompensasi cepat beri harapan. Saat air surut, Thailand harus bangkit: perkuat infrastruktur, tingkatkan peringatan dini, dan siap hadapi musim hujan ekstrem lagi. Korban ini tak boleh sia-sia—ia panggilan untuk Thailand lebih tangguh. Di balik duka, warga tunjukkan solidaritas, saling bantu di tengah puing—bukti semangat yang tak tergoyahkan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *