Thailand Memberi Total Rp 1 M Untuk Korban Banjir. Pada 2 Desember 2025, Thailand mengumumkan bantuan sebesar 1 miliar rupiah untuk korban banjir di selatan negara itu, langkah cepat dari pemerintah di tengah bencana yang tewaskan 176 jiwa. Banjir bandang akibat hujan deras dan siklon tropis melanda sembilan provinsi seperti Songkhla, Nakhon Si Thammarat, dan Surat Thani sejak akhir November, terdampak 2,75 juta orang. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, dalam konferensi pers di Bangkok, sebut dana ini bagian dari paket darurat 4,75 miliar baht—setara sekitar 2,3 triliun rupiah total—untuk restorasi cepat. Bantuan langsung ini, setara 1 miliar rupiah atau 2,8 juta baht, fokus salurkan ke 500.000 keluarga terdampak di Songkhla saja, di mana 120.000 rumah tangga terendam. Di tengah lumpur surut tapi trauma menumpuk, inisiatif ini jadi sinyal harapan bagi warga yang kehilangan segalanya. REVIEW KOMIK
Paket Bantuan: Transfer Langsung dan Kompensasi: Thailand Memberi Total Rp 1 M Untuk Korban Banjir
Pemerintah Thailand mulai transfer 9.000 baht—sekitar 4 juta rupiah—per keluarga terdampak sebagai bantuan awal, dengan 120.000 keluarga di Songkhla dapat dana minggu ini. Total 1 miliar rupiah ini alokasikan untuk makanan, air bersih, dan obat-obatan darurat, salurkan via bank negara untuk hindari penyalahgunaan. Anutin bilang, “Kami tak tunggu bantuan internasional; ini tanggung jawab nasional untuk saudara kami di selatan.”
Kompensasi lebih lanjut termasuk 2 juta baht per keluarga korban jiwa di zona darurat, plus biaya pemakaman disponsori raja. Rumah sakit seperti Hatyai Hospital, rusak 1 miliar baht, rencana buka 80 persen layanan dalam dua bulan, mulai dari rawat jalan minggu ini. Bank Thailand juga tukar uang kertas rusak akibat banjir, bantu warga pulihkan ekonomi harian. Paket ini tak cuma uang; ia termasuk pinjaman lunak hingga 1 juta baht per peminjam, dengan cicilan ditangguhkan setahun.
Dampak Banjir: Korban dan Kerusakan Ekonomi: Thailand Memberi Total Rp 1 M Untuk Korban Banjir
Banjir ini tewaskan 176 orang, terburuk dalam dekade, dengan 2,75 juta terdampak di sembilan provinsi. Di Hat Yai, Songkhla, 16.000 orang mengungsi ke 16 pusat evakuasi, 33.000 rumah hancur, plus 58 sekolah dan 700 km jalan rusak. Sawah 20.000 hektar terendam, rugikan petani teh dan padi—ekonomi selatan anjlok 500 miliar baht atau 24 triliun rupiah. Warga seperti Daeng di Hat Yai cerita kehilangan segalanya: “Kami kumpul air hujan untuk minum, makanan habis hari keempat.”
Listrik diputus di zona banjir untuk keselamatan, tapi itu tambah susah akses bantuan. Rumah sakit lumpuh, pasien evakuasi helikopter, sementara anak-anak 200.000 butuh nutrisi darurat. Hujan diprediksi lanjut hingga akhir pekan, potensial tambah korban di Trang dan Phatthalung. Ini bencana kedua tahun ini setelah banjir utara, soroti ketidaksiapan drainase dan perubahan iklim.
Upaya Pemulihan: Kolaborasi Lokal dan Internasional
Pemerintah kolaborasi dengan swasta untuk pemulihan. Nation Foundation buka dapur komunitas, salurkan paket bantuan ke 850 keluarga di Chiang Rai—mirip model selatan. Relawan di Prince of Songkla University minta donasi selimut dan pakaian, koordinasi via platform digital seperti Traffy Fondue. Sinyal seluler lemah hambat upaya, tapi radio lokal jadi andalan untuk info evakuasi.
Bantuan internasional mulai mengalir: PBB salurkan 10 juta dolar untuk makanan, sementara Indonesia kirim tim medis. Di Hat Yai, relawan seperti Anusorn Niyomtham bagikan makanan kering ke tetangga. Anutin kunjungi Hat Yai, janji listrik gratis untuk korban dan restorasi infrastruktur prioritas. Tantangan utama: 20 persen wilayah belum dijangkau, dan wabah kolera mengintai di pengungsian.
Kesimpulan
Bantuan 1 miliar rupiah dari Thailand untuk korban banjir selatan jadi langkah konkret di tengah duka 176 nyawa hilang dan 2,75 juta terdampak. Dari transfer langsung hingga kolaborasi pemulihan, inisiatif ini tunjukkan solidaritas nasional, meski ekonomi rugi 500 miliar baht. Hingga akhir 2025, dengan hujan masih ancam, prioritas selamatkan nyawa dan bangun ulang. Thailand kuat; bencana ini uji, tapi juga satukan—warga Hat Yai tunggu air surut, siap mulai lagi.